Ketika Arsenal bersiap menjamu Liverpool di Emirates Stadium pada Jumat, 9 Januari 2026, dini hari nanti, sorotan publik tertuju pada satu nama yang absen: Mohamed Salah. Namun, bagi para pengamat taktik, hilangnya bintang Mesir itu bukan sekadar mengurangi daya gedor Liverpool. Ini adalah pergeseran fundamental yang berpotensi merusak keseimbangan taktis yang dibangun pelatih Arne Slot.
Absennya Salah: Kebebasan Bek Kiri Arsenal dan Isolasi Trent Alexander-Arnold
Selama bertahun-tahun, instruksi bagi bek kiri Arsenal—baik Oleksandr Zinchenko, Jurrien Timber, maupun Jakub Kiwior—saat menghadapi Liverpool selalu sama: “Jangan naik terlalu tinggi, ada Salah di sana.” Instruksi sakral itu kini sirna. Tanpa kehadiran Salah, bek kiri Arsenal akan mendapatkan kebebasan penuh untuk menjelajah.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Menurut pantauan Mureks, dampak dari kebebasan ini sangat signifikan. Pertama, akan terjadi overload di sisi kiri serangan Arsenal. Gabriel Martinelli tidak akan berjuang sendirian; ia akan mendapat dukungan penuh dari bek sayap yang melakukan overlap tanpa rasa takut. Kedua, bek kanan Liverpool, Trent Alexander-Arnold, yang sering menjadi sasaran kritik atas kemampuan defensifnya, akan menghadapi situasi 2 lawan 1 (Martinelli plus bek kiri Arsenal) sepanjang 90 menit. Ini adalah resep bencana yang bisa menghancurkan pertahanan The Reds.
Duel Lini Tengah: Dominasi Fisik Declan Rice Melawan “Hantu” Liverpool
Pertarungan di lini tengah akan menjadi krusial, namun ketimpangan fisik terlihat jelas. Declan Rice telah bertransformasi menjadi gelandang box-to-box yang sangat dominan musim ini. Tim redaksi Mureks mencatat bahwa perbandingan lini tengah kedua tim menunjukkan perbedaan mencolok.
| Aspek | Arsenal (Rice – Odegaard – Merino) | Liverpool (Mac Allister – Szoboszlai – Gravenberch) |
|---|---|---|
| Fisik & Duel Udara | Sangat Dominan (Unggul postur) | Lemah (Rawan bola mati) |
| Transisi Bertahan | Rapat & Terorganisir | Sering meninggalkan celah di depan bek |
| Kreativitas | Terpusat pada Odegaard | Sporadis (Bergantung mood Szoboszlai) |
Liverpool diprediksi akan kesulitan keluar dari tekanan (press-resistant) menghadapi kekuatan fisik Rice dan Merino. Jika Liverpool kehilangan bola di area sendiri, transisi cepat Arsenal akan sangat mematikan.
Emirates: Benteng Psikologis yang Belum Runtuh
Aspek non-teknis yang tidak bisa diabaikan adalah aura Emirates Stadium pada musim 2025/2026. Pelatih Mikel Arteta berhasil mengubah stadion ini menjadi “neraka” bagi tim tamu, mirip dengan Anfield di masa kejayaan Jürgen Klopp.
Liverpool datang dengan beban mental ganda. Selain tertinggal 14 poin di klasemen, mereka dihantui fakta selalu kebobolan di menit awal dalam tiga laga tandang terakhir. Jika Arsenal mencetak gol cepat dalam 15 menit pertama, strategi Arne Slot bisa berantakan seketika. Ini diperparah karena Liverpool tidak memiliki sosok pemimpin vokal di lini depan untuk mengangkat moral tim.
Kesimpulan: Ujian Adaptasi Arne Slot
Laga ini bukan hanya tentang siapa yang memiliki pemain lebih baik, tetapi tentang siapa yang mampu menutupi lubang taktisnya. Arsenal hampir tanpa celah saat bermain di kandang. Sebaliknya, Liverpool memiliki lubang menganga di sayap kanan (tanpa Salah) dan di sisi defensif kanan (Trent Alexander-Arnold melawan Gabriel Martinelli).
Jika Arne Slot tidak menerapkan strategi pragmatis—mungkin dengan menumpuk gelandang atau mengganti Trent lebih awal—Arsenal berpotensi tidak hanya meraih kemenangan, tetapi juga mendominasi pertandingan secara mutlak.






