Sekretaris Jenderal (Sekjen) Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) Datuk Seri Windsor Paul John mengeluarkan peringatan keras kepada Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM). Windsor menyebut FIFA berpotensi membekukan keanggotaan FAM, serupa dengan sanksi yang pernah diterima PSSI Indonesia pada tahun 2015.
Peringatan ini muncul setelah FIFA memantau ketat situasi terkait dugaan manipulasi dokumen tujuh pemain naturalisasi. Sebelumnya, FIFA telah menjatuhkan sanksi larangan bermain selama 12 bulan serta denda kepada ketujuh pemain tersebut.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Tak hanya pemain, FAM juga menerima sanksi denda dari FIFA. Namun, FAM memilih untuk menggugat sanksi tersebut ke Pengadilan Arbitrase Olahraga Internasional (CAS), sebuah langkah yang menurut Windsor justru bisa memperberat posisi federasi.
Ancaman Pembekuan FIFA
Windsor menjelaskan, jika keputusan CAS nantinya tidak menguntungkan bagi FAM, FIFA dapat menjatuhkan sanksi yang lebih berat, termasuk pembekuan keanggotaan. Sanksi ini akan memiliki dampak signifikan terhadap sepak bola Malaysia.
“Jika FIFA menskors [membekukan keanggotaan] FAM, maka semua tim nasional dan klub tidak dapat bermain di luar Malaysia [internasional],” kata Windsor, seperti dilansir dari Harian Metro. Ia menambahkan, “Liga lokal dapat berjalan. Tetapi semua tim nasional, baik senior maupun U-12, termasuk klub yang berkompetisi untuk mewakili Malaysia di ACL, tidak akan diizinkan bermain di luar negeri.”
Pernyataan Windsor ini menanggapi sikap FAM yang menolak disalahkan dalam kasus manipulasi data pemain naturalisasi, dengan berkilah bahwa kesalahan bukan berada di pihak federasi.
Refleksi Sanksi PSSI 2015
Mureks mencatat bahwa pada tahun 2015, PSSI pernah dibekukan keanggotaannya oleh FIFA akibat intervensi pemerintah. Selama setahun penuh, sepak bola Indonesia diembargo dari dunia internasional, dan hanya bisa berkompetisi di dalam negeri.
Situasi serupa, meski tidak diharapkan, berpotensi terjadi pada FAM. Windsor hanya mengingatkan bahwa kemungkinan FAM dibekukan seperti Indonesia pada 2015 adalah skenario yang bisa saja menjadi kenyataan.
Referensi penulisan: www.cnnindonesia.com






