Putri pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Kim Ju Ae, melakukan kunjungan pertamanya ke mausoleum yang merupakan makam kakek dan buyutnya, para mantan pemimpin Korea Utara. Kunjungan ini, yang dilaporkan pada Jumat (26/12/2025) lalu oleh AFP, memicu spekulasi mengenai potensi suksesi kepemimpinan di negara tersebut.
Isyarat Suksesi di Balik Kunjungan Mausoleum
Kantor Berita Pusat Korea (KCNA) yang dikelola pemerintah melaporkan bahwa Kim Jong Un mengunjungi istana didampingi para pejabat tinggi, dan putrinya, Ju Ae, juga terlihat di sana. Mausoleum yang dikunjungi adalah Istana Matahari Kumsusan, sebuah kompleks besar di pusat kota Pyongyang, tempat Kim Il Sung dan Kim Jong Il dimakamkan sebagai “pemimpin abadi”.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Badan intelijen Korea Selatan sebelumnya menyatakan bahwa Ju Ae sudah memahami posisinya sebagai penerus takhta Korea Utara setelah ia menemani ayahnya dalam kunjungan penting ke Beijing. Ju Ae pertama kali diperkenalkan kepada publik pada tahun 2022 saat mendampingi ayahnya dalam peluncuran rudal balistik antarbenua.
Sejak saat itu, media pemerintah Korea Utara secara konsisten menyebutnya sebagai “anak kesayangan” dan “tokoh besar pembimbing” — atau “hyangdo” dalam bahasa Korea. Istilah “hyangdo” sendiri biasanya diperuntukkan bagi para pemimpin tertinggi dan penerusnya, sebuah indikasi kuat mengenai perannya di masa depan. Keluarga Kim telah memerintah Korea Utara selama beberapa dekade, dengan kultus kepribadian yang mengelilingi “garis keturunan Paektu” mendominasi kehidupan sehari-hari di negara yang terisolasi ini. Kim Jong Un adalah generasi ketiga dalam garis suksesi monarki komunis tersebut.
Penguatan Militer di Tengah Spekulasi
Di tengah spekulasi suksesi, Kim Jong Un juga terus memperkuat kemampuan militer negaranya. Pyongyang telah secara signifikan meningkatkan uji coba rudal dalam beberapa tahun terakhir. Menurut para analis, langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan serangan presisi, menantang Amerika Serikat serta Korea Selatan, dan menguji senjata sebelum mengekspornya ke Rusia.
Dalam pantauan Mureks, Kim Jong Un baru-baru ini memerintahkan pabrik-pabrik yang dikunjunginya untuk bersiap menghadapi tahun yang sibuk. Ia menekankan perlunya “memperluas kapasitas produksi secara keseluruhan” guna mengimbangi permintaan dari angkatan bersenjata Pyongyang. Kim juga memerintahkan pembangunan pabrik amunisi baru, menegaskan, “Sektor produksi rudal dan peluru sangat penting dalam memperkuat pencegahan perang.”
Klaim terbaru Kim Jong Un menyebutkan bahwa sistem peluncur roket multiple buatan negaranya mampu “menghancurkan musuh”. Klaim ini disampaikan saat ia mengunjungi sebuah pabrik yang memproduksi sistem persenjataan tersebut, seperti dilansir AFP pada Selasa (30/12/2025).
Kunjungan tersebut dilakukan sehari setelah Pyongyang mengumumkan uji tembak dua rudal jelajah jarak jauh strategis sebagai bentuk “kesiapan tempur” terhadap ancaman asing. Didampingi para pejabat tinggi dari program rudal Korut, Kim Jong Un menyatakan sistem senjata baru tersebut akan berfungsi sebagai “sarana serangan utama” militer Korut.
Menurut laporan KCNA, Kim Jong Un juga menegaskan bahwa sistem roket multiple itu merupakan “sistem senjata super ampuh karena dapat memusnahkan musuh melalui serangan mendadak dan tepat sasaran dengan akurasi tinggi dan daya hancur yang dahsyat”. Sistem persenjataan ini, lanjut KCNA, akan “digunakan dalam jumlah besar untuk serangan terkonsentrasi dalam operasi-operasi militer”.






