Mantan pembalap Red Bull Racing, Sergio Perez, secara blak-blakan mengungkapkan pengalamannya menjalani terapi dengan psikolog selama berkarier di tim Formula 1 tersebut. Keputusan untuk mencari bantuan profesional ini datang atas saran langsung dari tim, menyusul performa yang kurang memuaskan di awal musimnya.
Perez, pembalap berkebangsaan Meksiko, bergabung dengan Red Bull pada tahun 2021 setelah tujuh musim bersama Racing Point. Namun, musim perdananya tidak berjalan mulus. Ia hanya mampu meraih satu kemenangan di GP Azerbaijan dan finis di peringkat keempat klasemen akhir Formula 1 dengan 190 poin. Bandingkan dengan rekan setimnya, Max Verstappen, yang kala itu meraup sepuluh kemenangan dan berhasil merebut gelar juara dunia pertamanya, unggul delapan poin dari Lewis Hamilton.
Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id
Terapi Psikolog atas Saran Tim dan Biaya Fantastis
Melihat kesulitan yang dialami Perez, tim Red Bull yang bermarkas di Milton Keynes, Inggris, menyarankan agar ia menjalani terapi dengan psikolog. Perez mengikuti saran tersebut, namun terkejut dengan biaya yang harus ia tanggung.
“Segera setelah aku tiba di Red Bull, pada balapan pertama, mereka bilang kepadaku hal yang kubutuhkan adalah seorang psikolog ketika hasil balapan kurang oke. Suatu hari, aku datang ke markas Red Bull dan mereka bilang ada tagihan untukku. Itu tagihan sebesar 6 ribu pound sterling (sekitar 135,5 juta rupiah) dari psikolog,” kenang Sergio Perez dalam wawancara di siniar Cracks, seperti dilansir F1i.
Perez yang terkejut dengan nominal tersebut lantas melontarkan candaan. “Aku bilang kepada mereka untuk mengirimkannya kepada Helmut Marko. Dia yang akan membayarnya. Biaya sebesar itu untuk satu kali panggilan,” tambahnya.
Peningkatan Performa dan Peringkat Kedua di F1 2023
Terapi psikolog ini dijalani Sergio Perez selama tiga tahun. Catatan Mureks menunjukkan, tindakan tersebut membawa dampak positif yang signifikan terhadap performanya di lintasan. Pada musim 2022 dan 2023, Perez berhasil meraih 20 podium dan empat kemenangan. Puncaknya, ia menduduki peringkat kedua di klasemen akhir Formula 1 2023, sebuah pencapaian terbaiknya bersama Red Bull.
“Helmut Marko bertanya kepadaku tentang hasilnya. Aku menjawab itu adalah hal yang sempurna karena dengan sesi ini kami sudah siap. Begitulah kami melanjutkannya selama 3 tahun, bukan? Telah sembuh oleh psikolog, hasilnya mulai muncul. Tindakan itu berhasil,” ujar Sergio Perez.
Kemerosotan 2024 dan Babak Baru Bersama Cadillac
Sayangnya, performa Sergio Perez kembali merosot drastis pada musim 2024. Ia kesulitan mengendalikan mobil RB20 dan menghadapi tekanan yang kian meningkat, baik dari internal maupun eksternal tim. Perez mengakui bahwa masalah yang dihadapinya bukan hanya pada sisi psikologis, melainkan juga teknis dan politis.
“Aku mencari solusinya di mana-mana. Namun, dalam hati diriku tahu betul bahwa kamu tidak bisa melaju kencang ketika dirimu mengemudikan mobil sembari terus memikirkan hal yang akan terjadi, apa yang akan dilakukannya, dan di tikungan mana kamu akan menabrak. Di atas semua itu, seluruh tim kamu melawan dirimu. Secara terbuka, itu hal yang sangat sulit. Aku pikir hanya orang bermental sangat kuat yang bisa bertahan menghadapi hal semacam itu,” jelas Sergio Perez dikutip F1i.
Perez mengakhiri musim keempatnya bersama Red Bull di peringkat kedelapan klasemen pembalap dengan 152 poin, menjadikannya raihan terburuk selama memperkuat tim tersebut. Akibatnya, Perez terdepak dari Red Bull setelah musim 2024 dan akan absen dari Formula 1 pada 2025.
Namun, karier Perez di Formula 1 belum berakhir. Ia akan memulai babak baru pada 2026 dengan memperkuat tim Cadillac, bertandem dengan Valtteri Bottas. Pengalamannya yang panjang di ajang balap jet darat ini diharapkan dapat membantu Cadillac yang baru akan berkiprah di Formula 1.





