Kompetisi Liga 4 kembali menjadi pusat perhatian publik sepak bola Indonesia setelah serangkaian insiden kontroversial. Setelah sebelumnya diwarnai dugaan undian curang, kini marak terjadi aksi kekerasan di lapangan yang berujung pada sanksi berat bagi para pemain.
Dua Insiden Tendangan Brutal dalam Sepekan
Dalam sepekan terakhir, dua insiden kekerasan pemain di lapangan Liga 4 menjadi sorotan tajam. Insiden pertama terjadi pada awal pekan ini, Senin (5/1/2026), dalam laga Babak 32 Besar Liga 4 Zona Jawa Timur antara PS Putra Jaya melawan Perseta Tulungagung.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
Pemain PS Putra Jaya, Muhammad Hilmi Gimnastiar, melakukan tendangan brutal ke arah dada lawan, Firman Nugraha. Rekaman pertandingan menunjukkan Hilmi mengarahkan kakinya bukan ke bola, melainkan langsung ke dada Firman. Akibat aksi tersebut, Firman Nugraha terkapar kesakitan dan Hilmi langsung diganjar kartu merah oleh wasit.
Aksi Hilmi berbuntut panjang. Komite Disiplin PSSI menjatuhkan sanksi berat berupa denda Rp 2,5 juta dan larangan beraktivitas di dunia sepak bola seumur hidup. Tidak hanya itu, PS Putra Jaya juga mengambil tindakan tegas dengan memecat Hilmi Gimnastiar dari tim.
Ironisnya, insiden serupa kembali terulang sehari berselang, Selasa (6/1/2026), di Liga 4 Daerah Istimewa Yogyakarta. Kali ini terjadi dalam pertandingan KAFI Jogja melawan UAD FC di Lapangan Sitimulyo, Piyungan, Bantul.
Pemain KAFI Jogja, Dwi Pilihanto, juga melakukan tendangan tinggi yang mengarah ke kepala pemain UAD FC, Amirul Muttaqin. Berbeda dengan insiden sebelumnya, Dwi hanya menerima kartu kuning di laga tersebut, sementara Amirul Muttaqin harus ditarik keluar lapangan karena cedera. Aksi Dwi Pilihanto ini juga dengan cepat viral dan menuai kecaman publik.
Menanggapi insiden tersebut, Panitia Disiplin DIY segera melakukan peninjauan dan menjatuhkan sanksi berat. Dwi Pilihanto juga dijatuhi hukuman larangan bermain seumur hidup. KAFI Jogja pun mengambil sikap tegas dengan memecat Dwi sebagai pemain dan mengutuk keras aksinya.
Mureks mencatat bahwa serangkaian insiden kekerasan ini menambah daftar panjang polemik yang menyelimuti Liga 4.
Kontroversi Undian Curang Musim Lalu
Sebelum maraknya aksi kekerasan, Liga 4 sempat menjadi perbincangan hangat akibat dugaan undian curang pada musim sebelumnya. Insiden ini terjadi dalam undian putaran nasional Grup N, yang kala itu Persewangi Banyuwangi bertindak sebagai tuan rumah.
Dalam proses undian tersebut, operator terlihat mengambil bola dengan cara yang tidak transparan dan tidak terlihat jelas oleh publik, sehingga memicu tudingan adanya kecurangan. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, kala itu mengecam keras insiden tersebut dan meminta agar undian ulang segera dilakukan.
Transformasi Liga dan Tantangan Kualitas Penyelenggaraan
Liga 4 musim ini sejatinya telah mengalami perubahan format, di mana kompetisi dimulai dari jenjang kota, tidak lagi dari provinsi seperti musim pertama. Perubahan ini diharapkan dapat membantu perkembangan sepak bola tanah air dengan memunculkan bibit-bibit bertalenta yang dapat menunjang prestasi Timnas Indonesia.
Namun, pantauan Mureks menunjukkan bahwa situasi ini justru memunculkan masalah teknis yang makin sering terdengar, mulai dari penyelenggaraan laga di lapangan yang tidak layak hingga kini munculnya pemain-pemain dengan aksi ‘UFC’ di lapangan.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, pada Juli 2024 lalu, pernah menegaskan pentingnya transformasi liga. “Liga harus bisa bertransformasi. Ada yang salah jika liga kita sekarang nomor 28 di Asia dan nomor 6 di Asia Tenggara. Jika Liga 1 dan 2 harus bertransformasi, maka Liga 3 dan 4 harus terus didorong dengan perbaikan manajemen liga,” ujarnya, seperti dilansir situs resmi PSSI.
“Oleh sebab itu saya minta seluruh stakeholder mendukung niat baik ini. Harus ada terobosan. Jika ada yang tidak mau, ya jangan salahkan jika tertinggal,” tegas Erick Thohir.
Pertanyaan besar pun muncul: apakah sistem kompetisi yang makin berjenjang seperti Liga 4 ini juga diikuti dengan peningkatan kualitas penyelenggaraan dari tingkat pusat hingga kota oleh PSSI?






