Olahraga

Liam Rosenior Hadapi Ujian Berat di Chelsea: Dari Indisiplin hingga Krisis Kepercayaan Diri Pemain

Liam Rosenior resmi ditunjuk sebagai manajer baru Chelsea menggantikan Enzo Maresca, sebuah penunjukan yang sejak awal diprediksi akan penuh tantangan. Minimnya pengalaman Rosenior di Liga Primer, apalagi di klub sekelas Chelsea, menempatkannya di bawah sorotan tajam. Pria Inggris berusia 41 tahun ini tiba di Cobham dengan tumpukan pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan, di tengah musim The Blues yang terasa di ujung tanduk.

Rosenior memulai tugasnya saat Chelsea melawat ke markas Charlton di putaran ketiga Piala FA. Namun, pertandingan tersebut lebih terasa sebagai pemanasan sebelum menghadapi serangkaian masalah yang lebih krusial. Tim barunya kini terperosok ke posisi kedelapan klasemen setelah kekalahan dari Fulham, menempatkan mereka sama dekatnya dengan Tottenham di peringkat ke-14 seperti halnya dengan Liverpool di peringkat keempat. Posisi di babak 16 besar Liga Champions pun masih belum aman, dengan banyak pertandingan penting menanti.

Simak artikel informatif lainnya di Mureks melalui mureks.co.id.

Disiplin Pemain, Tantangan Utama di Lapangan

Jika Rosenior belum menyadari masalah disiplin Chelsea saat penunjukannya, insiden di Craven Cottage menjadi pengingat yang jelas. Baru 22 menit pertandingan berjalan, Marc Cucurella, salah satu pemain paling berpengalaman di skuad, mendapatkan kartu merah. Ia gagal mengantisipasi bola panjang, kalah dari penyerang Fulham Harry Wilson, dan secara terang-terangan menariknya sebagai pemain terakhir.

Ini adalah kartu merah ketujuh bagi Chelsea musim ini, atau kedelapan jika dihitung pengusiran Maresca saat melawan Liverpool. Pendahulu Rosenior, Enzo Maresca, selalu membantah adanya masalah disiplin di timnya, termasuk soal kartu kuning yang tidak perlu. Pelatih sementara Calum McFarlane pun mengikuti jejaknya, meskipun pengusiran Cucurella berkontribusi pada kekalahan telak dalam derbi London barat. Kini, menarik untuk melihat pendekatan Rosenior, namun di balik layar, perubahan mendasar dalam perilaku dan penilaian tim di lapangan harus segera dilakukan.

Stamford Bridge Bukan Lagi Benteng Tak Tertembus

Meskipun kekalahan di Fulham menambah rekor buruk di laga tandang, performa kandang Chelsea musim ini justru lebih mengkhawatirkan. The Blues hanya memenangkan empat dari sepuluh pertandingan mereka di Stamford Bridge sepanjang musim 2025/26. Mereka terakhir kehilangan poin di kandang saat melawan Bournemouth di laga terakhir Maresca, yang kemudian diikuti kekalahan dari Aston Villa.

Catatan Mureks menunjukkan, rekor ini menempatkan Chelsea di peringkat ke-13 dalam tabel performa kandang Liga Primer, sebuah statistik yang jelas tidak cukup baik untuk klub sekelas mereka. Stamford Bridge yang dulu dikenal sebagai benteng tak tertembus, dengan Jose Mourinho pernah mencatat rekor tak terkalahkan dalam 60 dan kemudian 77 pertandingan kandang, kini jauh dari citra tersebut.

Masalah ini tidak hanya melibatkan pemain, tetapi juga para penggemar. Dampak dari kesulitan klub sejak pengambilalihan Boehly-Clearlake dan persepsi buruknya pengelolaan klub, membuat suasana di Stamford Bridge dapat memburuk dengan cepat. Keluhan dan luapan frustrasi dari tribun penonton secara nyata mengikis kepercayaan diri para pemain di lapangan, terutama skuad muda yang kesulitan tampil maksimal di bawah tekanan kritik pendukung sendiri. Rosenior harus segera memikat hati para pendukung dan mengembalikan ketakutan lawan saat bertandang ke Stamford Bridge.

Krisis Performa Cole Palmer dan Alejandro Garnacho

Dalam masa adaptasinya, Rosenior sangat membutuhkan para pemain terbaiknya untuk tampil prima. Namun, ia datang saat beberapa bintang tim sedang tidak dalam kondisi terbaik. Moises Caicedo tampak kurang fit setelah dua skorsing akibat serangkaian kartu kuning. Lebih mengkhawatirkan lagi, Cole Palmer jauh dari performa puncaknya di lini depan sejak kembali dari masalah pangkal paha dan patah jari kaki yang tak terduga.

Palmer sendiri mengakui pada Desember bahwa ia masih “jauh dari” kondisi prima. Meskipun telah mencetak gol melawan Everton dan Bournemouth serta menunjukkan beberapa kilasan kelasnya, performanya dalam tujuh pertandingan terakhir sangat mengkhawatirkan. Rosenior kini memiliki tugas berat untuk mengembalikan Palmer ke level kualitas konsisten yang telah meyakinkan banyak penggemar Chelsea bahwa pemain berusia 23 tahun itu adalah salah satu yang terbaik di Liga Primer.

Selain Palmer, Alejandro Garnacho juga gagal bersinar sejak tiba di Stamford Bridge. Pemain Argentina ini direkrut dari Manchester United dengan harga £40 juta, jauh di bawah nilai pasarnya. Namun, Garnacho seringkali menghilang dalam pertandingan dan gagal memanfaatkan peluang. Kelengahan konsentrasinya saat bertahan di tiang belakang juga merugikan tim, seperti dalam hasil imbang melawan Brentford dan kekalahan dari Bournemouth. Rosenior, yang dikenal memiliki reputasi dalam mengembangkan pemain muda, diharapkan dapat memaksimalkan potensi Garnacho sesegera mungkin.

Gagal Memanfaatkan Penguasaan Bola dan Mempertahankan Keunggulan

Chelsea memiliki kebiasaan buruk, gagal memenangkan pertandingan meskipun mendominasi penguasaan bola. Ini terlihat dalam hasil imbang melawan Bournemouth yang mengakhiri era Maresca, serta kekalahan kandang melawan Aston Villa, Sunderland, dan Leeds. Mereka justru tampil lebih baik dalam pertandingan di mana lawan memiliki penguasaan bola yang lebih besar. Ini menjadi dilema bagi Rosenior yang menyukai gaya permainan berbasis penguasaan bola. Ia harus menemukan cara untuk membuka pertahanan lawan dan memastikan ada tujuan dalam setiap umpan.

Masalah berulang lainnya adalah ketidakmampuan Chelsea mempertahankan keunggulan. Dari semua 20 klub Liga Primer, hanya Bournemouth yang kehilangan lebih banyak poin dari posisi unggul di musim 2025/26 dibandingkan The Blues, yakni 13 poin. Ini mencerminkan kerapuhan tim London barat tersebut bahkan saat unggul, dan menjadi pertanda kurangnya pengalaman mereka secara keseluruhan sebagai sebuah tim.

Chelsea terlalu sering kehilangan kendali dalam pertandingan musim ini, yang bisa dibilang menjadi salah satu alasan utama Maresca kehilangan pekerjaannya. Pertandingan melawan Villa adalah contoh utama, di mana mereka kalah meskipun sebagian besar mendominasi jalannya pertandingan. Konsistensi adalah kunci, dan itu hanya akan ditemukan jika tim mampu mempertahankan performa terbaik mereka dan meraih tiga poin penuh.

Mureks