Tren

Leonardo DiCaprio Ungkap Kegelisahan Mendalam soal Masa Depan Bioskop dan Peran AI dalam Seni

Pergeseran kebiasaan menonton film dari layar lebar ke layanan streaming memicu kegelisahan di kalangan pelaku industri, termasuk aktor kawakan Leonardo DiCaprio. Bintang pemenang Oscar ini secara terbuka mempertanyakan masa depan bioskop dan apakah minat masyarakat untuk menikmati sinema di layar besar masih sekuat dulu.

Dalam sebuah wawancara terbaru bersama The Times of London yang dilansir Mashable Indonesia, DiCaprio secara gamblang mempertanyakan arah kebiasaan penonton saat ini. “Apakah orang-orang masih memiliki selera untuk pergi ke bioskop?” ujarnya. Ia bahkan melontarkan analogi tajam, menyebut bioskop berpotensi menjadi ‘silo’ seperti bar jazz, yakni ruang hiburan yang tetap ada namun hanya dinikmati segelintir kalangan.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Kekhawatiran tersebut, menurut DiCaprio, berangkat dari perubahan drastis yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Ia menilai industri film tengah berada di titik transisi besar yang bergerak sangat cepat. “Perubahannya terjadi dengan kecepatan kilat. Kita sedang melihat transisi besar. Pertama, film dokumenter menghilang dari bioskop. Sekarang, film drama hanya mendapatkan waktu tayang yang terbatas dan orang-orang memilih menunggu untuk menontonnya di layanan streaming,” kata aktor film Titanic itu.

Pernyataan tersebut mencerminkan realitas yang kini dihadapi banyak rumah produksi dan sineas. Kehadiran platform streaming telah mengubah pola distribusi dan konsumsi film, membuat bioskop tidak lagi menjadi pilihan utama bagi sebagian penonton. Film-film non-blockbuster, terutama drama dan dokumenter, semakin sulit bertahan lama di layar lebar karena tekanan komersial dan perubahan preferensi audiens. Mureks mencatat bahwa fenomena ini menjadi cerminan nyata dari perubahan lanskap industri film yang bergerak cepat.

Meski demikian, DiCaprio menegaskan harapannya agar bioskop tetap memiliki peran penting di masa depan. Ia berharap generasi pembuat film berikutnya masih memiliki kesempatan untuk memamerkan karya mereka di layar besar, bukan hanya melalui layar gawai atau televisi. “Saya hanya berharap cukup banyak orang yang benar-benar visioner mendapatkan peluang untuk melakukan hal-hal unik di masa depan dan karya mereka bisa disaksikan di bioskop. Namun, itu masih harus dilihat,” jelasnya.

Sebagai salah satu aktor paling berpengaruh di Hollywood, pandangan DiCaprio memiliki bobot tersendiri. Selama bertahun-tahun, ia dikenal konsisten memilih proyek film yang kuat secara artistik dan sering kali sarat pesan sosial. Ia juga dikenal sebagai pembela integritas sinema, terutama dalam hal bagaimana film seharusnya diproduksi dan dikonsumsi.

DiCaprio Soroti Peran Kecerdasan Buatan dalam Karya Seni

Sikap tersebut juga terlihat dari pandangannya terhadap penggunaan kecerdasan buatan atau AI dalam industri film. Dalam wawancara terpisah dengan majalah Time, DiCaprio secara tegas mengkritik peran AI dalam proses kreatif. Menurutnya, teknologi tersebut tidak memiliki unsur kemanusiaan yang menjadi fondasi utama sebuah karya seni.

“AI bisa menjadi alat pendukung bagi pembuat film muda untuk menciptakan sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Namun saya pikir apa pun yang secara otentik dianggap sebagai seni harus berasal dari manusia,” papar pria kelahiran 11 November 1974 itu.

Ia kemudian menyinggung fenomena karya AI yang viral di internet, seperti lagu-lagu mashup yang meniru gaya musisi terkenal. Menurut DiCaprio, karya-karya semacam itu memang bisa terasa mengesankan pada awalnya, tetapi tidak memiliki daya tahan emosional. “Kamu mendengarnya dan berpikir, ‘Ya Tuhan, ini seperti Michael Jackson menyanyikan lagu The Weeknd,’ atau ‘Ini funk dari lagu A Tribe Called Quest “Bonita Applebum,” dibawakan dengan suara soul ala Al Green, dan itu luar biasa.’ Lalu kamu berkata, ‘Keren.’ Tapi kemudian karya itu hanya mendapatkan 15 menit ketenaran dan menghilang begitu saja,” ujarnya.

Pernyataan Leonardo DiCaprio tersebut menegaskan kegelisahan yang kini dirasakan banyak pelaku industri film, mulai dari aktor, sutradara, hingga pemilik bioskop. Di tengah dominasi streaming dan perkembangan teknologi AI, pertanyaan besar tentang masa depan bioskop dan nilai kemanusiaan dalam seni film masih belum memiliki jawaban pasti. Namun, suara dari figur sekelas DiCaprio menunjukkan bahwa perdebatan ini masih jauh dari selesai dan akan terus menjadi perhatian utama dalam perjalanan industri sinema ke depan.

Mureks