Kesuksesan global film Titanic pada akhir 1990-an ternyata membawa aktris Kate Winslet ke fase hidup yang penuh tekanan dan ketakutan ekstrem. Winslet, yang kini berusia 50 tahun, baru-baru ini buka-bukaan mengenai pengalaman traumatisnya setelah perannya sebagai Rose DeWitt Bukater melambungkan namanya ke puncak ketenaran.
Dalam wawancara dengan BBC Radio 4’s Desert Island Discs pada Minggu (21/12), Winslet mengenang periode pasca-rilis film yang disutradarai James Cameron tersebut. Ia baru berusia 22 tahun ketika Titanic tayang perdana pada 19 Desember 1997 dan langsung menjadi sensasi, bertahan di puncak box office selama 15 minggu berturut-turut.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Tekanan dan Ketakutan Pasca-Titanic
Di balik gemerlap kesuksesan, Winslet mengaku hidupnya “benar-benar terbalik”. Ia merasa tidak siap menghadapi sorotan publik yang begitu intens dan invasif.
“Itu mengerikan,” ujar Winslet, menggambarkan bagaimana popularitas mendadak itu mengubah hidupnya. “Ada orang-orang yang menyadap teleponku. Mereka ada di mana-mana. Dan aku benar-benar sendirian. Aku takut sekali, bahkan hanya untuk sekadar tidur.”
Winslet sangat terganggu dengan perilaku awak media yang melanggar privasinya. Ia menceritakan bagaimana ada pihak yang sengaja menggeledah tempat sampah rumahnya demi “mencoba mencari tahu aku sedang diet apa atau tidak diet sama sekali.” Wajahnya pun kerap muncul di sampul koran dan majalah, namun seringkali dibarengi dengan “sebutan-sebutan yang mengerikan, kejam, dan sebenarnya bersifat menghina.”
Objek Sensasi Tabloid dan Cara Bertahan
Antusiasme publik yang tak terbendung membuat Winslet dan lawan mainnya, Leonardo DiCaprio, menjadi objek obsesi media tabloid. Paparazi nyaris selalu membuntuti mereka ke mana pun pergi.
“Aku tidak siap untuk dunia seperti itu,” akunya. Untuk bertahan di tengah badai popularitas, Winslet memilih kembali ke hal-hal sederhana yang memberinya kenyamanan.
“Makan enak, ngobrol bareng, secangkir kopi yang nikmat, sedikit Radiohead, dan buang air besar yang lancar,” katanya. Ia menambahkan, “Hidup jadi jauh lebih baik dengan hal-hal itu.”
Gangguan Privasi Berulang di Tengah Perceraian
Gangguan terhadap privasi Winslet kembali meningkat sekitar satu dekade kemudian, saat ia bercerai dari suami keduanya, sutradara Sam Mendes, pada tahun 2010.
“Aku diikuti paparazi di New York City bersama dua anakku yang masih kecil, yang tentu saja ingin tahu alasan kenapa Sam dan aku berpisah,” tuturnya.
Menghadapi situasi tersebut, Winslet belajar untuk tetap tegar. “Kamu tinggal tutup mulut, menunduk, dan terus berjalan,” ujarnya. “Dan kamu mencoba menutup telinga anak-anakmu. Kamu bersandar pada teman-temanmu, dan kamu terus melangkah dalam hidup.” Ia juga bersyukur atas dukungan teman-teman setianya, termasuk tetangga yang kerap meninggalkan “semangkuk pasta panas mengepul dan segelas kecil anggur merah” di dinding taman rumah mereka.
Melawan Body Shaming dan Perlakuan Media
Selama bertahun-tahun, Winslet tidak pernah menghindar untuk membicarakan sisi gelap dari kesuksesannya, mulai dari intrusi media hingga frustrasi karena menjadi sasaran body shaming oleh tabloid.
Tahun lalu, saat menjadi tamu di acara 60 Minutes, Winslet bereaksi keras terhadap cuplikan lama para komentator yang membahas ukuran gaunnya. “Itu benar-benar mengerikan,” katanya, menyuarakan rasa muaknya yang masih membekas. “Orang seperti apa mereka sampai tega melakukan hal seperti itu pada seorang aktris muda yang sedang berusaha memahami hidupnya sendiri?”






