Republik Islam Iran tengah menghadapi gejolak besar menyusul gelombang protes anti-pemerintah berskala nasional yang telah berlangsung hampir dua pekan. Aksi massa ini, yang memasuki hari ke-13 pada Jumat (9/1/2026), disebut sebagai salah satu tantangan terbesar bagi rezim teokrasi Iran dalam beberapa tahun terakhir, dengan tuntutan yang meluas dari isu ekonomi hingga seruan perubahan rezim.
Pemicu dan Eskalasi Protes
Gelombang demonstrasi ini bermula dari kemarahan publik terhadap kondisi ekonomi yang memburuk, ditandai dengan inflasi tinggi dan anjloknya nilai mata uang. Kenaikan drastis harga kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan ayam, serta kebijakan bank sentral yang menghentikan subsidi dolar bagi importir, memicu para pedagang bazar turun ke jalan. Protes kemudian meluas dengan cepat, merangkul mahasiswa dan masyarakat umum di lebih dari 100 kota di berbagai provinsi, termasuk wilayah barat dan tenggara yang sensitif secara etnis.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
Para pengunjuk rasa menyuarakan slogan-slogan keras, termasuk






