Gubernur Papua Mathius D. Fakhiri mengajak seluruh lapisan masyarakat di wilayahnya untuk terus menjaga dan memperkuat kerukunan umat beragama. Hal ini ditegaskan sebagai fondasi utama dalam mewujudkan Papua yang harmonis dan damai.
Pernyataan tersebut disampaikan Mathius D. Fakhiri di sela-sela upacara peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama (Kemenag) yang berlangsung di Halaman Kantor Gubernur Provinsi Papua, Jayapura, pada Sabtu (3/1).
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Kerukunan Umat Beragama sebagai Kekuatan Utama Papua
“Kerukunan umat beragama adalah kekuatan besar Papua. Ini warisan leluhur yang harus terus kita jaga bersama, karena dari sinilah kedamaian dan persatuan Papua terbangun,” ujar Gubernur Mathius D. Fakhiri.
Ia juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada Kementerian Agama, khususnya Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag Provinsi Papua, atas peran aktif dan konsisten mereka dalam memelihara toleransi serta keharmonisan kehidupan beragama di Tanah Papua.
Mureks mencatat bahwa toleransi di Papua telah terjalin erat sejak lama dan menjadi identitas yang melekat pada masyarakat. Mathius D. Fakhiri menekankan bahwa identitas ini harus terus dipelihara, bahkan di tengah dinamika pemekaran wilayah yang terjadi di Papua.
“Toleransi di Papua telah terbangun sejak lama dan menjadi identitas masyarakat yang harus terus dipelihara, meskipun Papua kini mengalami pemekaran wilayah,” katanya, seraya melanjutkan, “Oleh karena itu, mari merawat bersama-sama kerukunan beragama di Tanah Papua agar tentram.”
Gubernur Mathius D. Fakhiri juga berbagi pengalamannya, “Sejak saya menjabat Kapolda Papua hingga sekarang sebagai gubernur, saya melihat toleransi umat beragama di Papua sangat luar biasa. Ini tidak boleh melemah, justru harus semakin diperkuat.”
Peningkatan Pelayanan Keagamaan dan Sinergi Pemerintah
Pemerintah Provinsi Papua mendorong Kemenag untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan keagamaan. Tujuannya adalah agar pelayanan tersebut dapat menjangkau seluruh kabupaten di Papua, sehingga dirasakan secara adil dan merata oleh seluruh masyarakat.
Mathius D. Fakhiri juga mengingatkan bahwa penghargaan seperti Harmony Award bukanlah tujuan akhir. “Penghargaan seperti Harmony Award bukanlah tujuan utama, melainkan bagaimana nilai-nilai toleransi dan kerukunan benar-benar hidup dan dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.
Ia menambahkan, “Yang terpenting bukan penghargaan, tetapi bagaimana suasana damai itu nyata, dirasakan, dan dinikmati oleh masyarakat Papua.”
Menurutnya, peringatan HAB ke-80 Kemenag ini menjadi momentum krusial untuk memperkuat sinergi antara Pemerintah Provinsi Papua dan Kemenag. Sinergi ini penting dalam upaya menjaga kerukunan umat beragama serta mendukung pembangunan daerah yang berlandaskan nilai persatuan dan toleransi.






