Hiburan

Gigabyte Gencarkan Solusi AI di CES 2026, Pasar Konsumen Justru Ragu dan Ancaman Gelembung Mengintai

LAS VEGAS – Produsen perangkat keras Gigabyte kembali menegaskan komitmennya terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam pameran Consumer Electronics Show (CES) 2026 di Las Vegas. Perusahaan asal Taiwan ini dengan bangga mengusung slogan “AI Forward” dan memperkenalkan ekosistem server AI terbarunya, serta serangkaian penawaran AI lokal melalui seri AI Top.

Komitmen Gigabyte terhadap AI bukanlah hal baru. Sebelumnya, dalam presentasi Computex 2024, perusahaan ini telah secara terbuka menyatakan diri sebagai perusahaan AI. Kini, di CES 2026, Gigabyte memperkenalkan AI Top Atom, yang diklaim sebagai “personal AI supercomputer, delivering petaflop-scale performance in a compact, energy-efficient form factor.” Dengan kapasitas RAM 128 GB, perangkat ini dirancang untuk pengembangan AI lokal dan pemrosesan Large Language Models (LLM) dengan 200 miliar parameter.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

Selain itu, Gigabyte juga meluncurkan Gigapod, sebuah “one-stop AI data center solution” yang modular. Menurut Gigabyte, “[It] integrates high-performance servers, high-speed networking, and Gigabyte Pod Manager (GPM) software, streamlining AI infrastructure design, deployment, and validation—accelerating the creation of enterprise AI Factories.” Solusi ini menargetkan pasar bisnis berskala besar, yang mungkin terkesan kontras dengan fokus CES sebagai pameran elektronik konsumen.

Kontras dengan Sentimen Konsumen

Langkah Gigabyte ini menjadi menarik untuk disandingkan dengan pandangan Dell di CES 2026. Meskipun Dell juga terlibat dalam pengembangan AI, perusahaan tersebut mengakui bahwa rata-rata pengguna akhir tidak terlalu tertarik dengan fitur-fitur AI. Kevin Terwilliger, Head of Product Dell, menjelaskan, “What we’ve learned over the course of this year, especially from a consumer perspective, is they’re not buying based on AI. In fact I think AI probably confuses them more than it helps them understand a specific outcome.”

Pernyataan Terwilliger menyoroti tantangan besar industri AI berikutnya: permintaan konsumen. Jika perusahaan teknologi raksasa gagal menciptakan ‘killer app’ yang diminati pengguna akhir, viabilitas finansial industri AI dapat runtuh dalam jangka panjang. Mureks mencatat bahwa fokus Gigabyte pada solusi bisnis AI di pameran konsumen mungkin merupakan strategi untuk mengamankan pendapatan, mengingat sektor perusahaan seringkali memiliki anggaran yang lebih besar.

Debat Gelembung AI: Antara Optimisme dan Peringatan

Di tengah gempuran produk dan solusi AI, perdebatan mengenai potensi “gelembung AI” masih terus bergulir. Lisa Su dari AMD dan Arvind Krishna dari IBM secara “emphatically” menyatakan tidak ada gelembung AI. Namun, analis pasar justru mengklaim bahwa gelembung AI saat ini “four times larger than the subprime bubble that caused the 2008 crash.”

Dengan miliaran dolar yang terikat dalam investasi sirkular, seperti kemitraan antara Anthropic, Microsoft, dan Nvidia, atau Nvidia dan OpenAI, keraguan terhadap pernyataan para CEO teknologi semakin menguat. Bahkan Sam Altman, salah satu tokoh kunci di balik OpenAI, sebelumnya pernah menyatakan, “Someone is going to lose a phenomenal amount of money” akibat investasi AI yang tidak bijaksana.

Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun antusiasme terhadap AI di kalangan produsen sangat tinggi, pasar konsumen masih menunjukkan keraguan, dan potensi risiko finansial di industri ini tetap menjadi perhatian serius.

Mureks