Pemecatan Ruben Amorim dari kursi pelatih Manchester United pada Kamis, 08 Januari 2026, kini terungkap dipicu oleh perselisihan sengit terkait strategi transfer pemain. Pelatih asal Portugal itu dikabarkan murka setelah manajemen menolak tujuh target transfer utamanya, mulai dari juara Piala Dunia hingga wonderkid menjanjikan.
Retaknya Hubungan di Old Trafford: Amorim Tuntut Kewenangan “Manajer”
Hubungan antara Ruben Amorim dan manajemen Manchester United memang telah retak berbulan-bulan sebelum pemecatannya. Meski komentar pasca hasil imbang 1-1 kontra Leeds United menjadi pemicu terakhir, benih perpisahan sudah tertanam kuat akibat perbedaan filosofi transfer.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Amorim, yang berusia 40 tahun, merasa kewenangannya terus dikebiri oleh Direktur Olahraga Jason Wilcox dan Kepala Rekrutmen Christopher Vivell. Menurut laporan The Sun, mereka berulang kali menolak pemain rekomendasinya demi membeli pemain pilihan klub yang berbasis data.
Puncak frustrasi Amorim terjadi usai laga di Elland Road, ketika ia menuntut untuk disebut sebagai “manajer” alih-alih sekadar “pelatih kepala”, mengindikasikan keinginannya untuk memiliki kontrol lebih besar atas kebijakan klub.
Amorim menginginkan pemain berpengalaman, teruji di Liga Inggris, dan bermental juara untuk menstabilkan tim. Sebaliknya, klub lebih memilih aset muda berpotensi tinggi dengan nilai jual kembali. Perbedaan filosofi inilah yang menyebabkan penolakan terhadap tujuh pemain yang Amorim anggap krusial bagi proyeknya.
Kiper Juara Dunia Ditolak, Pilih Wonderkid Minim Pengalaman
Konflik transfer pertama muncul di posisi penjaga gawang. Dengan performa Andre Onana dan Altay Bayindir yang dinilai kurang memuaskan, Amorim mendesak solusi yang jelas. Pilihannya jatuh pada Emiliano Martinez, kiper Aston Villa dan juara Piala Dunia bersama Argentina.
Martinez, yang kini berusia 33 tahun, dikabarkan siap pindah dan bahkan menunggu panggilan pada deadline day bursa transfer. Amorim menilai biaya £40 juta sepadan untuk figur pemimpin berkaliber dunia. Namun, manajemen INEOS menolak mentah-mentah ide merekrut pemain yang dianggap “kepala tiga” atau berusia di atas 30 tahun.
Sebagai gantinya, Manchester United mendatangkan Senne Lammens, kiper Belgia berusia 23 tahun dengan pengalaman profesional yang masih minim, seharga £18 juta. Mureks mencatat bahwa meski Lammens tampil cukup solid, keputusan mengabaikan pilihan Amorim yang menginginkan kiper juara dunia dan siap pakai menjadi preseden pahit.
Perjudian Striker Berujung Kegagalan: Watkins Ditolak Demi Sesko
Jika keputusan soal kiper masih bisa diperdebatkan, pilihan striker justru berbuah bencana. Amorim mendesak Setan Merah untuk merekrut Ollie Watkins dari Aston Villa, yang ia nilai cocok secara taktik dan siap pakai.
Namun, Vivell bersikeras pada Benjamin Sesko. Manchester United akhirnya menggelontorkan £74 juta demi potensi besar sang penyerang. Taruhan itu sejauh ini gagal, dengan Sesko baru mencetak empat gol dari 18 penampilan musim ini. Ironisnya, ia mencetak brace pada laga perdana MU tanpa Amorim, ketika ditahan Burnley 2-2 pada Kamis (8/1) dini hari WIB.
Amorim dikabarkan “sangat kesal” karena dipaksa memainkan striker mentah yang masih perlu banyak belajar, sementara target pilihannya bersinar di tempat lain.
Trauma Era Ten Hag Gagalkan Transfer Empat Pemain Sporting CP
Frustrasi Amorim semakin parah ketika Manchester United menolak mentah-mentah merekrut pemain dari klub lamanya, Sporting CP. Ia mengajukan empat nama untuk menopang sistemnya: Geovany Quenda, Ousmane Diomande, Salvador Blopa, dan Morten Hjulmand.
Manajemen MU trauma mengulang era Erik ten Hag, ketika skuad mereka dipenuhi eks pemain Ajax yang dinilai gagal beradaptasi di Liga Inggris. Akibatnya, semua nama terkait Sporting dicoret, semata karena latar belakang mereka.
Yang paling menyakitkan adalah kasus Quenda. Wonderkid 18 tahun itu sempat membuka pembicaraan dengan Manchester United dan relatif mudah didapat. Namun, para pemandu bakat menilai profilnya terlalu mirip dengan Amad Diallo, sehingga minat Setan Merah mendingin. Keraguan ini membuka jalan bagi Chelsea untuk masuk dan mengamankan kesepakatan £42 juta, dengan sang winger akan hijrah ke Stamford Bridge musim panas nanti.
Hjulmand juga dipandang Amorim sebagai jangkar lini tengah ideal, pemain yang bisa langsung beraksi tanpa perlu adaptasi taktik. Petinggi klub tak setuju, dan memilih menunggu target lain untuk musim panas 2026. Diomande dan Blopa pun ikut dicoret dari daftar target, membuat Amorim merasa pertahanannya tak punya atribut spesifik untuk skema tiga bek.
Bintang PSG Dikorbankan Demi Alternatif Lebih Murah
Nama terakhir yang ditolak adalah Nuno Mendes. Bintang yang meraih sextuple bersama Paris Saint-Germain itu merupakan rekrutan impian Amorim untuk peran wing-back krusial. Ia yakin kualitas teknis Mendes bisa menjadi pembeda di sisi kiri pertahanan.
Namun, Manchester United menilai transfer tersebut terlalu rumit dan mahal untuk dikejar secara agresif. Sebagai alternatif, mereka merekrut Patrick Dorgu dari Lecce. Meski menjanjikan, Dorgu belum memiliki otoritas dan dampak instan seperti Mendes.
Dengan Manchester United kini berada di peringkat tujuh Liga Inggris—hanya berjarak enam poin dari peringkat 15—keputusan menolak tujuh target pilihan Amorim ini membuat Darren Fletcher terjejak skuad yang tidak padu. Fokus klub pada “potensi” ketimbang kebutuhan saat ini akhirnya memakan korban, dan Amorim harus membayar mahal. Para suporter pun bertanya-tanya: apa jadinya jika Martinez, Watkins, dan Mendes benar-benar didatangkan?






