Hiburan

Death Streamer (2024): Ketika Vampir Modern Berburu Korban di Dunia Maya dan Disiarkan Langsung

Film horor terbaru, Death Streamer (2024), menawarkan perspektif segar dalam genre vampir dengan memadukannya ke dalam lanskap teknologi digital dan obsesi media sosial. Berdurasi 72 menit, film ini dibintangi oleh Maddy May, Llana Barron, dan Emma Massalone, serta disutradarai oleh Charles Band yang juga menulis skenarionya bersama Neal Marshall Stevens.

Kisah Death Streamer berpusat pada seorang vampir di era modern yang tak lagi bersembunyi di balik bayang-bayang kastil. Sebaliknya, ia memanfaatkan kacamata berteknologi canggih untuk melacak dan memburu korbannya, baik di dunia nyata maupun di ranah virtual. Yang lebih mengerikan, setiap aksi pembunuhan yang dilakukannya disiarkan secara langsung, mengubah kematian menjadi tontonan yang dapat diakses siapa saja secara real time.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Fenomena ‘Death Streamer’ dan Kultus Penggemar

Seiring waktu, vampir ini dikenal luas di internet dengan julukan ‘Death Streamer’. Tayangan berdarahnya berhasil menarik perhatian banyak orang, bahkan membentuk semacam kultus penggemar yang kecanduan menyaksikan teror dan jeritan para korban. Menurut catatan Mureks, fenomena ini secara tajam menyoroti sisi gelap era media sosial, di mana batas antara hiburan dan tragedi menjadi semakin kabur.

Alih-alih merasa bersalah, sang vampir justru semakin menikmati ketenarannya. Jumlah penonton yang terus bertambah membuatnya merasa kebal hukum dan semakin haus darah, mendorongnya untuk menjadikan setiap pembunuhan sebagai pertunjukan yang lebih ekstrem dari sebelumnya.

Penyelidik Supranatural Menjadi Target

Di tengah kegilaan ini, muncul tiga anak muda yang tertarik untuk menyelidiki fenomena aneh tersebut. Mereka adalah tim kecil penyelidik supranatural yang terbiasa memburu makhluk-makhluk misterius. Setelah berhasil menemukan pola dan jejak digital dari si Death Streamer, mereka mulai mendekati kebenaran. Namun, langkah mereka justru menjadi kesalahan fatal.

Sang vampir menyadari bahwa dirinya sedang diburu dan dengan cepat membalikkan keadaan. Ketiga penyelidik itu kini berubah menjadi target, membawa teror ke level yang lebih personal. Film ini menegaskan bahwa di dunia yang terobsesi dengan tontonan, monster tidak hanya bersembunyi di bayangan, tetapi juga bisa tampil terang-terangan di layar, disoraki dan dipuja oleh penontonnya sendiri.

Mureks