Persaingan teknologi global antara China dan raksasa Barat kini semakin memanas, merambah hingga ke luar angkasa. Setelah sukses menggebrak pasar kendaraan listrik dan kecerdasan buatan, China kini melancarkan ancaman serius terhadap dominasi Starlink di sektor konektivitas satelit global.
Sebuah tim peneliti dari China, seperti dikutip dari Slashgear pada Selasa (6/1/2026), baru saja memamerkan sistem konektivitas satelit mutakhir. Sistem ini diklaim mampu mencapai kecepatan puncak hingga 1 Gbps. Pencapaian luar biasa ini terwujud berkat teknologi laser berdaya rendah, yang menandai terobosan signifikan dalam dunia telekomunikasi nirkabel modern.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Inovasi Laser Berdaya Rendah
Sistem inovatif ini dikembangkan oleh para ilmuwan dari Universitas Pos dan Telekomunikasi Peking bersama Akademi Ilmu Pengetahuan China. Mereka mengandalkan infrastruktur baru yang dinamakan sinergi AO-MDR. Hal yang paling mencengangkan bukan hanya kecepatannya, melainkan juga efisiensi energinya yang sangat tinggi.
Tim tersebut berhasil mengirimkan data menggunakan laser berdaya hanya 2 watt. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan laser satelit Starlink yang membutuhkan sekitar 10 watt hingga 50 watt untuk transmisi radio ke Bumi. Mureks mencatat bahwa efisiensi energi ini menjadi kunci penting dalam pengembangan teknologi satelit masa depan.
Meskipun Starlink saat ini memiliki laser antar-satelit dengan output 200 Gbps, teknologi tersebut masih terbatas untuk komunikasi antar-unit di orbit dan belum dipancarkan langsung ke terminal pengguna di permukaan Bumi. Penggunaan laser sendiri mulai dipandang sebagai masa depan komunikasi karena kemampuannya membawa data jauh lebih banyak dibandingkan gelombang radio konvensional dalam satu jalur transmisi.
Menjaga Stabilitas di Tengah Tantangan Atmosfer
Untuk menangkap sinyal laser dari satelit, para peneliti menggunakan teleskop canggih berdiameter 1,8 meter. Teleskop ini dilengkapi dengan 357 cermin mikro yang berfungsi memfokuskan data dengan presisi tinggi.
Eksperimen serupa sebenarnya pernah dilakukan oleh NASA melalui proyek TBIRD yang mencapai 200 Gbps. Namun, inovasi China kali ini berfokus pada bagaimana menjaga stabilitas transmisi meskipun harus melewati tantangan atmosfer Bumi yang dinamis. Gangguan alam seperti hujan, kabut asap, hingga debu selama ini menjadi musuh utama teknologi laser karena dapat menurunkan kualitas sinyal secara drastis.
Tim peneliti China berhasil mematahkan keraguan tersebut. Mereka mampu menjaga koneksi tetap stabil di angka 1 Gbps, bahkan saat terjadi turbulensi udara yang kuat. Metode yang digunakan adalah konverter khusus yang membagi sinyal menjadi delapan saluran, lalu digabungkan kembali oleh chip pintar di darat. Metode cerdas ini terbukti meningkatkan keandalan sinyal dari yang semula hanya 72% menjadi lebih dari 91%, sebuah angka krusial untuk menjamin internet tanpa gangguan.
Keberhasilan ini juga sejalan dengan riset para ahli di Jepang yang mulai menemukan solusi atas masalah pelemahan sinyal akibat atmosfer. Hal ini menandakan bahwa era komunikasi laser satelit-ke-bumi sudah di depan mata.
Solusi Kepadatan Orbit dan Polusi Cahaya
Selain aspek kecepatan, inovasi China ini membawa misi penting untuk mengatasi masalah kepadatan orbit Bumi yang selama ini dikeluhkan para astronom. Berbeda dengan ribuan satelit Starlink yang berkerumun di orbit rendah pada ketinggian 550 kilometer, satelit eksperimental China ini ditempatkan jauh lebih tinggi, yakni sekitar 36.705 kilometer dari Bumi. Penempatan ini berada di area ruang angkasa yang jauh lebih lega dan sepi.
Penempatan di orbit yang lebih jauh ini menjadi solusi elegan bagi masalah polusi cahaya dan interferensi radio yang sering ditimbulkan oleh konstelasi satelit orbit rendah. Para astrofisikawan berulang kali memperingatkan bahwa ribuan titik cahaya dari proyek seperti SpaceX dan Amazon dapat merusak pengamatan astronomi radio serta menambah risiko tumpukan sampah antariksa yang berbahaya.
Dengan teknologi laser yang ditempatkan lebih tinggi, konektivitas masa depan tidak hanya menjanjikan kecepatan yang lebih ngebut dan efisien, tetapi juga lebih ramah terhadap ekosistem langit malam. Kini, dunia tinggal menunggu apakah inovasi China ini bisa segera dikomersialkan untuk benar-benar menyaingi kejayaan Starlink di pasar global.






