Badan Antariksa Eropa (ESA), lembaga yang bertanggung jawab atas misi ilmiah dan teknologi luar angkasa di benua tersebut, mengonfirmasi insiden peretasan pada sebagian sistem eksternalnya. Pelaku peretasan mengklaim berhasil mencuri sekitar 200 gigabyte (GB) data dan telah mengunggahnya ke forum peretas.
Menurut pernyataan resmi ESA, serangan siber ini menargetkan beberapa server ilmiah eksternal. Server-server ini digunakan untuk kolaborasi rekayasa dan penelitian bersama komunitas ilmiah internasional. ESA menegaskan bahwa sistem inti dan jaringan korporat utama mereka tidak terdampak langsung oleh insiden tersebut.
Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id
Pelaku peretasan, yang menggunakan alias “888”, mempublikasikan klaimnya di BreachForums, sebuah platform daring yang dikenal sebagai tempat penjualan data curian. Dalam unggahannya, “888” menyatakan telah memiliki akses ke server ESA selama kurang lebih satu minggu sebelum berhasil mengekspor data.
Dikutip dari laporan Forbes pada Senin (5/1/2025), jenis data yang disebutkan dicuri meliputi source code dari repositori pribadi, konfigurasi CI/CD, token API, kredensial akses, hingga berkas infrastructure as code. Tangkapan layar yang dibagikan oleh pelaku menunjukkan struktur dan isi berkas tertentu, namun ESA belum mengonfirmasi secara independen kebenaran semua klaim tersebut atau apakah data yang diunggah memang merupakan hasil curian.
Menanggapi insiden ini, pihak ESA telah memulai analisis forensik internal dan menerapkan langkah-langkah pengamanan jangka pendek untuk melindungi sistem yang berpotensi terpengaruh. Semua pemangku kepentingan terkait juga telah diberitahu. Namun, rincian lebih lanjut mengenai bagaimana pelanggaran itu terjadi atau dampak lanjutan terhadap operasi dan kerja sama ilmiah mereka belum dirilis secara publik.
“ESA segera memulai analisis keamanan forensik internal, yang saat ini sedang berlangsung, dan telah menerapkan langkah-langkah perbaikan jangka pendek untuk mengamankan perangkat yang berpotensi terpengaruh,” ujar juru bicara ESA, sebagaimana dicatat oleh Mureks.
Pakar keamanan siber menyoroti insiden ini sebagai pengingat penting bahwa organisasi teknologi tinggi, termasuk badan antariksa, tetap menjadi target menarik bagi peretas. Hal ini terutama berlaku ketika data kolaboratif dan kredensial penting terlibat dalam sistem mereka.
Meskipun data yang diklaim dicuri tidak berasal dari sistem rahasia atau operasi misi vital, indikasi kebocoran kredensial dan source code menimbulkan kekhawatiran serius terhadap potensi risiko keamanan di masa depan. Dengan proyeksi pertumbuhan pesat ekonomi ruang angkasa global, mulai dari layanan satelit hingga infrastruktur teknologi tinggi, insiden ini menggarisbawahi urgensi penguatan keamanan siber di seluruh industri antariksa.
Para pakar menambahkan, keterlibatan banyak pihak dari berbagai negara dalam proyek antariksa membuat ruang digital kolaboratif berpotensi menjadi titik lemah jika tidak dilindungi secara komprehensif. Meski demikian, hingga saat ini ESA terus meyakinkan publik bahwa sistem operasi utama dan misi strategis mereka tidak terancam secara langsung oleh peretasan ini.






