Tren

AS Usir Tiongkok dari Venezuela, Kanada Terancam Kena Imbas Geopolitik Jika Salah Langkah

JAKARTA – Awal tahun 2026 diwarnai ketegangan geopolitik yang meningkat, terutama setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan intervensi agresif di Venezuela. Langkah ini tidak hanya mengubah peta politik Amerika Latin dengan lengsernya Nicolas Maduro yang kini mendekam di sel Brooklyn, tetapi juga mengirimkan sinyal kuat dari Presiden AS Donald Trump kepada kekuatan global lain, khususnya Tiongkok, Iran, dan Rusia. Kanada, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Mark Carney, kini berada di posisi sulit, terancam dampak serius jika gagal menavigasi kompleksitas kepentingan nasional dan tekanan Washington.

Intervensi AS di Venezuela, menurut pantauan Mureks, merupakan kebangkitan kembali ambisi dominasi hemisfer Barat ala Doktrin Monroe, namun dengan pendekatan yang lebih konfrontatif. Empat alasan resmi yang dikemukakan Trump untuk intervensi ini—akses minyak, pemberantasan narkoba, pembatasan migrasi ilegal, dan demokratisasi—secara langsung bersinggungan dengan kepentingan Kanada.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Venezuela, sebagai pengekspor minyak berat yang mirip dengan produksi pasir minyak Kanada, menjadi titik krusial. Selain itu, isu narkoba dan migrasi telah berulang kali digunakan Trump sebagai dalih untuk menekan Kanada melalui tarif dan kebijakan perdagangan yang keras. Ini memicu respons cepat dari Ottawa dan oposisi.

Kanada Berupaya Redam Tekanan, Namun Akar Masalah Lebih Dalam

Pierre Poilievre, dari pihak oposisi, mendesak percepatan pembangunan pipa minyak ke Pantai Barat untuk mengurangi ketergantungan Kanada pada pasar AS. Pemerintah federal juga mengklaim telah memperketat perbatasan dan menekan kejahatan lintas negara, termasuk menyita lebih dari 1.000 pon fentanyl dan menurunkan arus migrasi ilegal hampir 98 persen.

Namun, tim redaksi Mureks mencatat bahwa langkah-langkah ini dinilai hanya menyentuh permukaan. Akar masalah sesungguhnya adalah perang pengaruh global. Trump bergerak di Venezuela untuk memutus cengkeraman tiga kekuatan yang dianggap ancaman utama Amerika: Tiongkok, Iran, dan Rusia.

Tiongkok saat ini membeli sekitar 80 persen ekspor minyak Venezuela. Jaringan narkoba negara tersebut turut mendanai kelompok proksi Iran seperti Hizbullah. Sementara itu, Rusia di bawah Vladimir Putin telah menandatangani kemitraan strategis dengan rezim Maduro. Menumbangkan Maduro berarti memotong simpul kerja sama ketiga kekuatan ini sekaligus, terutama Tiongkok yang kini menjadi mitra dagang terbesar Amerika Selatan.

Ancaman Kedaulatan dan Ekonomi Kanada

Posisi Kanada tidak netral dalam pertarungan pengaruh ini. Selama puluhan tahun, Beijing dituduh melakukan intervensi politik, memengaruhi pemilu, dan menekan diaspora Tionghoa di Kanada. Iran disebut membiarkan aparatnya beroperasi bebas, menyebar ancaman dan ujaran kebencian. Rusia pun dituding menjalankan operasi pengaruh untuk melemahkan dukungan Kanada terhadap Ukraina.

Langkah Ottawa membentuk Foreign Influence Registry dengan ancaman denda hingga 1 juta dolar mungkin terlambat, tetapi setidaknya menunjukkan kesadaran baru akan ancaman ini. Situasi ini semakin krusial mengingat perjanjian dagang CUSMA akan ditinjau ulang tahun ini.

Jika Trump menarik fasilitas bebas tarif yang mencakup 85 persen ekspor Kanada, ekonomi negara tersebut bisa terpukul telak. Amerika Serikat, menurut Mureks, tidak lagi menjamin persahabatan tanpa syarat. Kanada harus membersihkan pengaruh asing bukan hanya demi meredam tekanan Trump, tetapi demi kedaulatan dan keamanan nasionalnya sendiri di tengah dinamika geopolitik yang semakin memanas.

Mureks