Teknologi

Adopsi AI Picu Gelombang PHK Massal di Sektor Perbankan Eropa, Ratusan Ribu Pekerjaan Terancam Hilang

Sektor perbankan Eropa diperkirakan akan menghadapi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal seiring dengan semakin luasnya implementasi teknologi kecerdasan buatan (AI). Analisis dari Morgan Stanley memproyeksikan lebih dari 200.000 pekerjaan di sektor perbankan Eropa berpotensi hilang hingga tahun 2030.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 10% dari total karyawan di 35 bank besar di kawasan tersebut. PHK diprediksi paling banyak terjadi pada fungsi back-office, manajemen risiko, dan kepatuhan (compliance), di mana tugas-tugas administratif dan analisis data dinilai dapat dikerjakan lebih cepat dan murah oleh sistem AI.

Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Dampak Efisiensi AI dan Proyeksi Bloomberg Intelligence

Morgan Stanley memperkirakan pemanfaatan AI dapat meningkatkan efisiensi operasional bank hingga 30%. Hal ini mendorong manajemen bank untuk memangkas biaya tenaga kerja secara agresif. Tren serupa juga sudah diprediksi sejak tahun lalu oleh Bloomberg Intelligence (BI).

Lembaga riset tersebut memproyeksikan bank-bank global dapat memangkas hingga 200.000 pekerjaan dalam kurun 3 hingga 5 tahun ke depan akibat penetrasi AI. Berdasarkan survei terhadap chief information officer dan chief technology officer, BI mencatat rata-rata responden memperkirakan pemangkasan bersih sekitar 3% dari total tenaga kerja.

Menurut analis senior BI, Tomasz Noetzel, unit back office, middle office, dan operasional menjadi area yang paling berisiko. Selain itu, layanan pelanggan juga diperkirakan mengalami perubahan signifikan seiring penggunaan chatbot dan sistem otomatis, sementara proses know-your-customer (KYC) dinilai sangat rentan terdigitalisasi.

“Setiap pekerjaan yang melibatkan tugas rutin dan berulang berada dalam risiko,” kata Noetzel.

Meski demikian, Noetzel menegaskan AI tidak sepenuhnya menghapus peran manusia, melainkan mendorong transformasi tenaga kerja. Mureks mencatat bahwa hampir seperempat dari 93 responden survei BI bahkan memperkirakan penurunan jumlah karyawan bisa mencapai 5% hingga 10% dari total headcount.

Kelompok bank yang disurvei mencakup institusi global seperti Citigroup Inc., JPMorgan Chase & Co., dan Goldman Sachs Group Inc. Di sisi lain, adopsi AI diproyeksikan memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan perbankan.

BI memperkirakan pada 2027, laba sebelum pajak bank-bank global dapat meningkat 12% hingga 17% dibandingkan skenario tanpa AI atau setara tambahan hingga US$180 miliar. Delapan dari sepuluh responden meyakini AI generatif mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan setidaknya 5% dalam 3 hingga 5 tahun ke depan.

Pemanfaatan AI dan Risiko di Perbankan Indonesia

Fenomena perampingan tenaga kerja akibat adopsi AI juga terjadi dalam industri teknologi global. Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Survei Orientasi Bisnis Perbankan OJK (SBPO) Kuartal IV/2025 mengungkap bahwa sebagian bank telah memanfaatkan AI dalam beberapa kegiatan proses bisnis.

Survei yang dilakukan pada Oktober 2025 ini melibatkan 102 bank dengan nilai aset mencapai sebesar 99,25% dari total aset seluruh bank umum pada September 2025. Dalam laporan itu, OJK mengungkap sejumlah dampak positif penggunaan AI terhadap industri perbankan.

Dampak positif tersebut di antaranya adalah sebagai alat bantu yang efektif dalam pengumpulan, perangkuman, dan analisis informasi dengan lebih komprehensif dan cepat. “Terutama pada aktivitas bank yang bersifat rutin namun membutuhkan sumber informasi yang banyak dan beragam sehingga dapat mengurangi beban kerja pegawai,” bunyi laporan SBPO, dikutip pada Senin (24/11/2025).

Dampak positif lainnya bagi industri ini yakni meminimalisir kesalahan manusia pada aktivitas berulang, mengurangi biaya operasional, serta sebagai early warning system dan fraud detection lantaran dapat mendeteksi fraud dan pola transaksi mencurigakan secara real time.

Kendati begitu, OJK dalam survei ini juga mengingatkan risiko yang muncul dari penggunaan AI terhadap industri perbankan. Menurut laporan tersebut, otomatisasi melalui AI dapat menggeser fungsi manusia.

“Terutama di area operasional dan layanan dasar yang sifatnya repetitif dan manual,” tulis laporan itu.

Selain itu, risiko keamanan siber dan ketergantungan teknologi turut membayangi industri perbankan. Laporan itu menuturkan, sistem yang terkoneksi secara luas dan terotomatisasi rentan terhadap manipulasi data dan serangan siber.

Risiko lainnya yakni masalah etika dan privasi data. OJK menjelaskan, penggunaan AI yang melibatkan analisis data pribadi dalam skala besar dapat memicu pertanyaan etis terkait privasi, khususnya jika tidak disertai dengan kebijakan Perlindungan Data Pribadi dan prinsip persetujuan yang transparan dan akuntabel.

“Mengingat AI sangat bergantung pada data dan algoritma maka dapat menimbulkan bias algoritma dalam pengambilan keputusan,” ungkap laporan itu.

Melihat dampak positif dan negatif dari penggunaan AI terhadap industri perbankan, OJK menyimpulkan bahwa penggunaan teknologi ini harus selalu berada di bawah kendali kecerdasan manusia.

“AI dapat menggantikan prosedur, tetapi tidak dapat menggantikan nilai-nilai etika, kepercayaan, dan integritas yang telah menjadi nilai inti perbankan,” pungkasnya.
Mureks